Telah lama ku mencoba
tegar
Hadapi semua ini sendiri
Banyak cara yang ku lakukan
Hingga ku menjadi lebih dewasa dibanding kamu
Jauh lebih dewasa
Namun semua cara itu selalu salah di matamu
Entah harus bagaimana lagi
Padahal setiap hari selalu kusempatkan merenung
Meratapi kembali hal apa saja yang telah ku perbuat hari itu
Selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu
Menahan emosiku, sendiri walau perih dan kecewa
Bukan ku tak ikhlas
Hanya ingin mengingatkan
Ada seorang perempuan
Yang sangat menyayangimu tulus
Meski selalu kau acuhkan
Ya, dialah aku
Aku yang terlihat tegar
Namun nyatanya mati
Mati untuk bersikap realistis
Dan tegar melihatmu begitu
Aku hanya mempunyai keyakinan
Kamu menyayangiku namun saat ini tak bisa memperlihatkannya
Mengapa? Aku tak tahu
Dan hanya kamu yang merasakannya
Cobaan dan rintangan yang selalu menghadang
Hilir mudik kata-kata yang kadang membuat keyakinanku hilang
Sempat kupertanyakan padamu
Hingga membuatmu tak nyaman lagi denganku
Namun salahkah aku mengeluh sekali?
Bandingkan dengan tegarnya diriku menghadapi semua sikapmu
Aku mencoba untuk tetap bertahan
Ini hanya kerikil kecil yang tajam
Bukan jurang ataupun batu besar yang jatuh
Normalnya aku bisa menghadapi ini semua
Meskipun sendiri dan tanpa kamu
Janjiku yang selalu ku ingat
Dan harusnya kutepati
Menyayangimu
Hingga mataku tak mampu melihat lagi
Dan ragaku yang telah rapuh
Itupun yang terucap dari bibirmu, dahulu
Sanggupkah kamu menepati? Harusnya
Sabar
Hanya itu yang bisa aku lakukan
Aku menyayangimu hingga bisa seperti ini
Cinta yang mengajariku arti kata pengorbanan
Pengorbanan hatiku untuk melawan keegoisan
Meski tiada kata yang terucap dari bibirmu
Memang aku menginginkan satu kata
Yang sangat berarti terucap
Namun sudahlah
Terimakasih telah menyayangiku sampai hari ini
Tiada hari yang terlewatkan
Selama 7 bulan ini
Hadapi semua ini sendiri
Banyak cara yang ku lakukan
Hingga ku menjadi lebih dewasa dibanding kamu
Jauh lebih dewasa
Namun semua cara itu selalu salah di matamu
Entah harus bagaimana lagi
Padahal setiap hari selalu kusempatkan merenung
Meratapi kembali hal apa saja yang telah ku perbuat hari itu
Selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu
Menahan emosiku, sendiri walau perih dan kecewa
Bukan ku tak ikhlas
Hanya ingin mengingatkan
Ada seorang perempuan
Yang sangat menyayangimu tulus
Meski selalu kau acuhkan
Ya, dialah aku
Aku yang terlihat tegar
Namun nyatanya mati
Mati untuk bersikap realistis
Dan tegar melihatmu begitu
Aku hanya mempunyai keyakinan
Kamu menyayangiku namun saat ini tak bisa memperlihatkannya
Mengapa? Aku tak tahu
Dan hanya kamu yang merasakannya
Cobaan dan rintangan yang selalu menghadang
Hilir mudik kata-kata yang kadang membuat keyakinanku hilang
Sempat kupertanyakan padamu
Hingga membuatmu tak nyaman lagi denganku
Namun salahkah aku mengeluh sekali?
Bandingkan dengan tegarnya diriku menghadapi semua sikapmu
Aku mencoba untuk tetap bertahan
Ini hanya kerikil kecil yang tajam
Bukan jurang ataupun batu besar yang jatuh
Normalnya aku bisa menghadapi ini semua
Meskipun sendiri dan tanpa kamu
Janjiku yang selalu ku ingat
Dan harusnya kutepati
Menyayangimu
Hingga mataku tak mampu melihat lagi
Dan ragaku yang telah rapuh
Itupun yang terucap dari bibirmu, dahulu
Sanggupkah kamu menepati? Harusnya
Sabar
Hanya itu yang bisa aku lakukan
Aku menyayangimu hingga bisa seperti ini
Cinta yang mengajariku arti kata pengorbanan
Pengorbanan hatiku untuk melawan keegoisan
Meski tiada kata yang terucap dari bibirmu
Memang aku menginginkan satu kata
Yang sangat berarti terucap
Namun sudahlah
Terimakasih telah menyayangiku sampai hari ini
Tiada hari yang terlewatkan
Selama 7 bulan ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar